How to Series – Presentasi Bisnis Kepada Calon Investor (Part 1)

Salah satu faktor terpenting bagi pebisnis adalah ketersediaan dana segar (fresh money) untuk membiayai operasional perusahaan. Meski bukan satu-satunya faktor, tapi ketersediaanya merupakan penentu bagi berdirinya suatu entitas bisnis. Namun demikian bagi...

How to Series – Presentasi Bisnis Kepada Calon Investor (2)

Setelah siap dengan Business Plan yang baik, langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan presentasi bisnis di hadapan calon investor. Hal ini merupakan aktivitas yang sangat vital dan akan menentukan apakah proposal bisnis Anda layak untuk diterima...

Wirausaha TI, Sulitkah?

Berdasarkan pengamatan penulis, saat ini rasa-rasanya industri teknologi informasi Indonesia sedang terjangkiti virus kewirausahaan. Hal tersebut sah-sah saja dan malah bagus menurut sudut pandang penulis mengingat fakta menunjukkan saat ini masih terdapat...

Wirausaha TI, Sulitkah?

image006

Berdasarkan pengamatan penulis, saat ini rasa-rasanya industri teknologi informasi Indonesia sedang terjangkiti virus kewirausahaan. Hal tersebut sah-sah saja dan malah bagus menurut sudut pandang penulis mengingat fakta menunjukkan saat ini masih terdapat jutaan orang dalam usia produktif yang masih harus berjibaku memperebutkan lapangan kerja yang sangat terbatas.

Logikanya bila ada sekitar 1000 orang saja membuka usaha, dengan asumsi rata-rata tiap perusahaan memperkerjakan 5 tenaga kerja, maka setidaknya akan ada sekitar 5000 orang yang terserap dalam lapangan pekerjaan tersebut. Bila tiap orang setidaknya menghidupi satu istri dan satu anak, maka setidaknya 15.000 orang akan tercukupi kebutuhan hidupnya. Bayangkan bila ada 1 juta manusia Indonesia yang berani membuka usaha sendiri.

Namun demikian, bila kita berbicara dengan tataran yang lebih realistis. Membuka usaha sendiri tidaklah semudah yang dibayangkan. Meskipun juga jangan dijadikan sebagai alasan untuk membuat kita mundur dalam meraih cita-cita membuka usaha sendiri. Sektor Teknologi Informasi (TI) dalam prediksi dan keyakinan penulis merupakan salah satu industri masa depan yang sangat prospektif. Dalam kajian secara informal maupun berdasarkan kajian ilmiah sewaktu penulis menyusun tesis, diperoleh kesimpulan bahwa industri alih daya (outsourcing) TI di Indonesia telah dan akan terus berkembang pesat.

Hal tersebut diatas terutama didukung dengan berbagai alasan utama, seperti: penghematan biaya, akses terhadap teknologi dan ketrampilan khusus, akses terhadap kualitas layanan yang lebih baik, dan terutama keputusan untuk fokus kepada bisnis inti (core business). Larry Ellison (CEO Oracle Corp) pernah berujar: “why should every doctor’s office have to be a tech company too, employing high-paid staffs who spend all of their time fiddling around with computers?”. Kalimat tersebut jelas menunjukkan optimisme objektif bahwa bisnis TI akan terus berkembang seiring dengan kesadaran dari perusahaan-perusahaan untuk melakukan alih daya TI kepada pihak luar.

Dalam konteks Indonesia, berdasarkan pengalaman penulis sebagai penyedia solusi alih daya TI, potensi pasar yang tersedia bisa dibilang sangat besar dan akan terus berkembang. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa terdapat banyak perusahaan blue-chip nasional yang masih menjalankan aktivitas operasionalnya secara manual dan belum terotomasi. Logikanya bila perusahaan papan atas masih banyak melakukan aktivitas manual, bisa dibayangkan untuk perusahaan kelas kecil dan menengah. Mengingat potensi UKM di Indonesia yang sangat besar, penulis yakin bahwa bisnis TI akan terus berkembang dengan pesat di masa datang.

Setelah yakin dengan potensi pasar, pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana memulai bisnis tersebut? Sebagaimana galibnya memulai usaha baru, diperlukan beberapa hal dasar yang mutlak diperlukan untuk memulai usaha dengan baik. Secara singkat, setidaknya diperlukan tiga hal utama, yakni mental, modal, dan ketrampilan. Sebagian orang percaya diperlukan juga keberuntungan (LUCK) dalam memulai bisnis baru, namun penulis lebih percaya dengan akronim LUCK = Labor Under Correct Knowledge atau dengan kata lain sebenarnya kitalah yang harus menciptakan keberuntungan kita sendiri.

Sikap mental yang jujur, tangguh, berani, ulet, dan tidak mudah menyerah merupakan karakteristik mutlak dari wirausaha yang menginginkan kesuksesan dalam bisnisnya. Namun demikian sikap mental tersebut bukanlah sesuatu yang “taken for granted” alias otomatis dimiliki oleh setiap orang. Sebagai manusia, kita harus belajar dan terus mencoba untuk melatih sikap-sikap mental tersebut. Tanpa usaha dan latihan yang berkesinambungan, rasanya susah untuk memiliki sikap mental seperti itu.

Hal selanjutnya yang sering dianggap hambatan dalam memulai usaha baru adalah ketiadaan modal. Hal ini wajar mengingat di Indonesia tidaklah mudah memperoleh modal usaha yang diperlukan untuk memulai suatu bisnis. Dalam konteks bisnis TI, hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan berbagai cara. Bisnis jasa konsultasi TI (software, networking) biasanya tidak memerlukan modal yang besar. Cukup berbekal ketrampilan dan kemampuan untuk “menjual” ketrampilan tersebut maka biasanya sebuah usaha TI dapat dimulai dengan modal yang seminim mungkin. Apabila Anda masih mahasiswa, banyaklah bergabung dengan komunitas mailing list atau e-forum yang mungkin dapat menjadi jembatan awal dalam menawarkan ketrampilan Anda.

Selain itu juga ada kesempatan untuk menawarkan diri Anda menjadi tenaga lepas (freelancer) dalam mengerjakan proyek-proyek TI. Bagi Anda yang baru lulus dan belum memiliki ketrampilan tinggi, hal ini merupakan peluang yang bagus untuk meningkatkan ketrampilan Anda dan sekaligus mengumpulkan portofolio. Bila memungkinkan, carilah proyek dari perusahaan yang ternama atau multi nasional. Karena dengan demikian akan memberikan nilai tambah bagi Anda apabila Anda hendak menawarkan jasa kepada perusahaan lain.

Setelah yakin dengan ketrampilan dan jam terbang Anda, tak ada salahnya bila mulai memikirkan untuk membuka usaha secara formal. Ada baiknya memulai usaha bersama rekan yang memiliki visi yang sama mengingat keterbatasan modal yang ada. Para ahli kewirausahaan berpendapat bahwa 18 bulan pertama dalam bisnis merupakan masa kritis yang akan menentukan kelangsungan sebuah bisnis, Oleh karena itu pada periode tersebut faktor produksi, pemasaran, keuangan, dan pengelolaan SDM harus diperhatikan dengan sangat seksama.

Umumnya problem yang dihadapi oleh bisnis baru berkisar pada faktor pemasaran dan cash-flow. Untuk pemasaran, hal ini dapat diminimalisir dengan membina jaringan bisnis (networking) seluas-luasnya melalui kerjasama dengan perusahaan-perusahaan sejenis yang sudah mapan melalui mekanisme sub-kontrak. Sedangkan untuk problem cash-flow, bisa diminimalisir dengan menekan pengeluaran semaksimal mungkin serta mengajukan negosiasi skema pembayaran dari klien melalui mekanisme permintaan down-payment atau membuka kesempatan kepada klien untuk membayar secara angsuran per bulan. Apabila memungkinkan, bisa dipikirkan juga dengan skema pembayaran re-curring yang dihitung berdasarkan jumlah per transaksi.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan apabila kita berharap agar usaha kita terus berkembang. Dalam sebagian besar proyek TI, terutama jasa, pada umumnya terdapat 3 hal yang krusial, yakni kualitas pekerjaan, ketepatan waktu, dan harga. Seringkali harga justru bukan menjadi hal yang penting mengingat umumnya proyek TI yang dikerjakan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi suatu perusahaan. Oleh karena itu, bila kita ingin terus eksis dan berkembang dalam industri ini maka kualitas pekerjaan yang prima dan ketepatan waktu seyogyanya harus senantiasa menjadi kredo dalam menjalankan setiap pekerjaan yang ada.

Juga ada baiknya kalau pengusaha TI pemula mulai berpikir untuk mulai fokus menawarkan solusi dibanding hanya menawarkan produk atau jasa semata. Solusi yang merupakan integrasi dari produk dan jasa membuka kesempatan bagi kita untuk memberikan layanan yang lebih luas dan terintegrasi kepada klien. Bayangkan bila kita berhasil membuat bundle software produksi kita dengan hardware merk terkenal dan juga ditunjang dengan jasa maintenance yang memadai, tentu penawaran tersebut akan jauh lebih menarik bagi calon klien daripada sekedar menawarkan produk atau jasa semata.

Lepas dari semua itu, terdapat satu hal khusus yang sangat penting untuk diperhatikan, yaitu kemampuan untuk membina relasi yang baik dengan klien. Bagi sebuah bisnis, klien adalah segalanya dan tanpa klien mustahil sebuah bisnis bisa bertahan. Selain mengharapkan kualitas kerja yang maksimal dan ketepatan waktu. Lebih bagus kiranya kalau kita juga menjalin hubungan profesional yang harmonis dengan klien kita. Menelpon secara periodik untuk mengkonfirmasi hasil kerja kita atau menelpon sewaktu mereka berulangtahun bisa menjadi sarana yang baik untuk menjadikan mereka klien yang setia dan memberikan referensi yang bagus kepada rekan-rekan mereka atas pekerjaan kita.

Walau jauh dari sempurna, penulis berharap agar tips diatas bisa menjadi referensi ringkas bagi calon-calon wirausaha TI di Indonesia. Memang tidak mudah menjadi pengusaha handal, namun dengan kerja keras dan ketekunan niscaya Tuhan akan menganugerahi kita untuk meraih kesuksesan.

@Betley – 280907

Keyword : , , , ,

Leave a Reply

Jakarta 28 Feb, Turbo HipnoSelling

Jakarta 28 Feb, Turbo HipnoSel

Workshop HipnoSelling Turbo...
read more

How to Series – Presentasi Bisnis Kepada Calon Investor (Part 1) Salah satu faktor terpenting bagi pebisnis adalah ketersediaan dana segar (fresh...
read more
How to Series – Presentasi Bisnis Kepada Calon Investor (2) Setelah siap dengan Business Plan yang baik, langkah berikutnya yang perlu dilakukan...
read more

Telp (021) 917 777 66
SMS 0815 100 77 232
Email Hanny@mindzetter.com
YM
     
Telp (021) 237 777 66
SMS 0813 85 7777 66
Email yanti@mindzetter.com
YM

Kegiatan Mindzetter Walk On Glass Outbound Training Motivation and Fire Walking Leadership